Senin, 24 November 2014

filsafat ilmu (ONTOLOGI)

BAB I

PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno yang berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thailes, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan subtansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu yang tidak berdiri dengan sendirinya melainkan adanya saling keterkaitan dan ketergantungan satu dengan yang lainnya.

Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam persoalan ontologi, orang menhadapi permasalahan bagaimana menerangkan hakikat dari segala yang ada. Pertama, orang akan berhadapan dengan dua kenyataan yaitu berupa materi rohani. Pembicaraan mengenai hakikat sangatlah luas, meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya bukan sementara atau berubah-ubah.

Secara ringkas ontologi membahas realitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berpikir, dan pola berpikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai dasar pembahasan realitas.

Ontologi juga merupakan salah satu dari obyek garapan filsafat ilmu yang menetapkan batas lingkup dan teori tentang hakikat realitas yang ada, baik berupa wujud fisik maupun metafisik selain itu, ontologi merupakan hakikat ilmu itu sendiri dan apa hakikat kebenaran serta kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah.
BAB II
PEMBAHASAN.
1.1 Metafisika
Berdasarkan asal katanya Metafisika dapat diartikan Bahasa Yunani: (meta)  “setelah atau di balik” (phúsika) hal-hal di alam adalah cabang filsafat yang mempelajari penjelasan asal atau hakekat objek (fisik) di dunia. Metafisika adalah studi keberadaan atau realitas. Metafisika mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti Apakah sumber dari suatu realitas? Apakah Tuhan ada? Apa tempat manusia di dalam semesta?
Pembahasan ontologi terkait dengan pembahasan mengenai metafisika. Mengapa ontologi terkait dengan metafisika? Ontologi membahas hakikat yang “ada”, metafisika menjawab pertanyaan apakah hakikat kenyataan ini sebenar-benarnya? Pada suatu pembahasan, metafisika merupakan bagian dari ontologi, tetapi pada pembahasan lain, ontologi merupakan salah satu dimensi saja dari metafisika. Karena itu, metafisika dan ontologi merupakan dua hal yang saling terkait. Bidang metafisika merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati, termasuk pemikiran ilmiah. Metafisika berusaha menggagas jawaban tentang apakah alam ini. Terdapat Beberapa penafsiran yang diberikan manusia mengenai alam ini (Jujun, 2005).
a. Supernaturalisme
Di alam terdapat wujud-wujud gaib (supernatural) dan ujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih berkuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Dari paham Supernatural ini lahirla tafsiran-tafsiran cabang seperti Animisme, dimana manusia percaya bahwa terdapat roh yang sifatnya gaib terdapat dalam benda-benda.
b. Naturalisme.
Paham ini amat bertentangan dengan paham supernaturalisme. Paham naturalisme menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib, melainkan karena kekuatan yang terdapat dalam itu sendiri,yang dapat dipelajari dan dapat diketahui. Orang-orang yang menganut paham naturalisme ini beranggapan seperti itu karena standar kebenaran yang mereka gunakan hanyalah logika akal semata, sehingga mereka mereka menolak keberadaan hal-hal yang bersifat gaib itu. Materialisme yang merupakan paham berdasarkan naturialisme ini, yang berpendapat bahwa gejala-gejala alam ini tidak disebabkan oleh hal-hal yang bersifat gaib.
Prinsip-prinsip materialisme ini di kembangkan oleh Democritos. Dia mengembangkan teori tentang atom yang dipelajari oleh gurunya Leocippus yang mengatakan unsur dari alam ini adalah atom.
Hanya berdasarkan kebiasan saja maka manis, panas, dingin itu dingin, warna itu warna. Dalam kenyataan hanya terdapat atom dan kehampaan. Artinya, obyek dari penginderaan sering dianggap nyata, padahal tidak demikian. Hanya atom dan kehampaan itulah yang bersifat nyata.
            Dengan demikian gejalah alam dapat didekati dari segi proses kimia fisika. Hal ini tidak terlalu menimbulkan permasalahan diterapkan pada zat-zat yang mati seperti batuan dan besi yang berkarat.
Dari paham naturalisme ini juga muncul paham materialisme yang menganggap bahwa alam semesta dan manusia berasal dari materi. Adapun bagi mereka yang mencoba mempelajari mengenai makhluk hidup. Timbul dua tafsiran yang masing saling bertentangan yakni paham mekanistik dan paham vitalistik. Kaum mekanistik melihat gejala alam (termasuk makhluk hidup) hanya merupakan gejala kimia-fisika semata. Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substansif dengan hanya sekedar gejala kimia-fisika semata.
Berbeda halnya dengan telaah mengenai akal dan pikiran, dalam hal ini ada dua tafsiran yang juga saling berbeda satu sama lain. Yakni paham monoistik dan dualistik. sudah merupakan aksioma bahwa proses berpikir manusia menghasilkan pengetahuan tentang zat (objek) yang ditelaahnya. Dari sini aliran monoistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat.keduanya (pikiran dan zat) hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai subtansi yang sama. Pendapat ini ditolak oleh kaum yang menganut paham dualistik. Dalam metafisika, penafsiran dualistik membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda secara substansif. Aliran ini berpendapat bahwa yang ditangkap oleh pikiran adalah bersifat mental. Maka yang bersifat nyata adalah pikiran, sebab dengan berpikirlah maka sesuatu itu lantas ada.
1.2 Asumsi
Dalam buku “Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer” yang ditulis oleh Jujun S. Suriasumantri, didalamnya ia mendeskripsikan asumsi secara rinci dengan menghadirkan sebuah cerita dengan lakon dua tokoh penembak yang memiliki latar belakang yang berbeda, pertama seorang penembak ulung dan yang kedua seorang petani yang tidak mempunyai pengalaman dalam dunia tembak, lalu keduanya dipertemukan dalam sebuah arena adu tembak, dan dari sinilah asumsi mulai bermunculan dari berbagai pihak untuk mengambil peruntungan siapa yang akan mereka jagokan?  Mereka pun mulai berspekulasi agar tidak salah dalam memilih orang yang akan mereka jagokan. Kemungkinan yang pertama tentunya kemenangan sangat jelas berpihak kepada si penembak ulung jika dilihat dari pengalaman yang telah dia jalani dalam dunia tembak, dan kemungkinan tersebut sangatlah besar peluangnya untuk lolos menjadi pemenang. Lalu disana pun masih ada kemungkinan kedua yaitu keberuntungan si petani untuk lolos menjadi pemenang, walaupun keahlian menembak tak dia kuasai, tetapi paling tidak masih ada sedikit peluang untuknya agar menjadi pemenang dalam adu tembak ini. Setelah menyimak cerita tersebut kita pun mulai ikut berasumsi manakah yang akan lolos menjadi pemenang? Si jago tembak kah sesuai dengan hukum alam yang berlaku? Atau si petani kah karena peluang yang dimilikinya membawa dia kepada keberuntungan?

Idealnya ilmu pengetahuan bebas asumsi. Ini dikarenakan ilmu pengetahuan sebenarnya berasal dari kritik terhadap filsafat idealisme yang selalu terjebak dalam asumsi. Ilmu pengetahuan ingin membuang asumsi-asumsi yang tak berdasar dan menggantikannya dengan sebuah pemikiran yang murni Induksi. Berasal dari pengamatan yang jelas tanpa terjebak dengan teori-teori lalu yang bisa salah. Semua pernyataan harus dibuktikan secara empiris.

Sayangnya hal semacam ini sangat tidak mungkin. Ilmu pengetahuan akan selalu menyimpan asumsi di dalamnya. Dalam sebuah percobaan seorang ilmuan tidak bisa tidak terperangkap dalam sebuah kondisi sosio-historis-kultural. Misal, dalam sebuah percobaan beberapa orang ilmuan mencoba mengetahui apa saja yang mempengaruhi titik didih sebuah
Dari cerita di atas, asumsi dapat diartikan sebagai dugaan yang diterima sebagai dasar atau landasan berfikir karena dianggap benar. Sedangkan pengertian asumsi dalam filsafat ilmu ini merupakan anggapan/ andaian dasar tentang realitas suatu objek yang menjadi pusat penelaahan atau pondasi bagi penyusunan pengetahuan ilmiah yang diperlukan dalam pengembangan ilmu. Tanpa asumsi anggapan orang atau pihak tentang realitas bisa berbeda, tergantung dari sudut pandang dan kacamata apa. Ernan McMullin seorang Professor Emeritus filsafat di Universitas of Notre Dame, USA (2002) pun menyatakan tentang pentingnya keberadaan asumsi dalam suatu ilmu pengetahuan, ia mengatakan bahwa hal yang mendasar yang harus ada dalam ontologi suatu ilmu pengetahuan adalah menentukan asumsi pokok  keberadaan suatu objek sebelum melakukan penelitian.

Dalam mendapatkan pengetahuan seorang ilmuwan/ peneliti harus membuat bermacam asumsi mengenai objek-objek empiris karena dalam menentukan asumsi hanya bisa dilakukan oleh si ilmuwan/ peneliti sendiri sebelum melakukan kegiatan penelitian, apakah sebenarnya yang ingin dipelajari dari suatu ilmu yang akan ditelitinya. Semakin banyak asumsi akan semakin sempit ruang gerak penelitiannya. Asumsi diperlukan karena pernyataan asumtif inilah yang memberi arah dan landasan bagi kegiatan penelaahan. Suriasumantri menyatakan bahwa sebuah pengetahuan baru dianggap benar selama bisa menerima asumsi yang dikemukakan adanya awan tebal dan langit gelap/ mendung merupakan pertanda akan turun hujan, hal tersubut bukanlah suatu kebetulan tetapi memang polanya sudah demikian, kejadian tersebut akan terus berulang dengan pola yang sama.

Dalam mengembangkan ilmu, kita harus bertolak dengan mempunyai asumsi/ anggapan yang sama mengenai hukum-hukum alam dan objek yang akan ditelaah oleh ilmu baik itu dalam waktu. Ilmu sosial mengedepankan membahas asumsi mengenai manusia.

1.3 Peluang

           Jadi berdasarkan teori-teori keilmuan saya tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian, tanya seorang awam kepada seorang ilmuwan. Ilmuwan itu menggelengkan kepalanya. Tidak, jawab ilmuwan itu sambil tersenyum apologetic, hanya kesimpulan yang probabilistic.

Jadi berdasarkan metereologi dan geofisika saya tidak pernah merasa pasti bahwa esok hari akan hujan atau tidak akan hujan, sambung orang awam kita, kian penasaran. Tidak, jawab ilmuwan kita, tetap tersenyum sebab dia termasuk golongan “orang yang tahu ditahunya dan tahu ditidaktahunya” jadi tidak pernah groggy bila diserang saya hanya bisa mengatakan umpamanya, bahwa dengan probabilitas 0.8 esok tidak akan turun hujan.
“Apa artinya peluang 0.8 ini?” Tanya orang awam.
Peluang 0.8 secara sederhana dapat diartikan bahwa probabilitas untuk turun hujan esok adalah 8 dari 10 yang merupakan kepastian. Atau  sekiranya saya merasa pasti 100 persen bahwa esok akan turun hujan maka saya akan berikan peluang 1.0. atau dengan perkataan lain yang lebih sederhana, peluang 0.8 mencirikan bahwa pada sepuluh 10 kali ramalan tentang akan jatuh hujan, 8 kali memang hujan itu turun, dan dua kali ramalan itu meleset.

Pertama harus saudara sadari bahwa ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak. Dalam soal pretensi ini maka ilmu kalah dengan pengetahuan perdukunan. Saudara pasti sembuh, ujar dukun, minum saja air ini. Jelas dia tidak pernah mengatakan minum air ini dan dengan peluang 0.8 maka saudara akan sembuh . Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar bagi saudara untuk mengambil keputusan dimana keputusan saudara harus didasarkan kepada penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif. Dengan demikian  maka kata terakhir dari suatu keputusan terletak di tangan saudara dan bukan pada teori-teori keilmuan. Itulah mungkin sebabnya orang yang tidak pernah mau mengambil  keputusan sendiri lebih senang pergi ke dukun. Berkonsultasi pada ahli psikologi atau psikiater paling-paling diberi alternatif-alternatif yang dapat diambil sedangkan dukun dengan pasti akan berkata pilih jalan ini, saya jamin, pasti berhasil.

Oleh sebab itu sekiranya kita mempunyai pengetahuan ilmiah yang menyatakan bahwa sekiranya hari mendung maka terdapat peluang 0.8 akan turun hujan maka pengetahuan itu harus kita letakkan pada permasalahan hidup kita yang mempunyai perspektif dan bobot berbeda-beda. Katakanlah umpamanya saudara besok akan piknik, kemudian saudara saudara mengetahui bahwa esok punya peluang 0.8 bahwa hari tidak akan hujan, akankah  saudara urungkan piknik saudara?

1.4 Asumsi dalam ilmu

Waktu kecil segalanya kelihatan serba besar, pohon natal begitu tinggi semampai orang-orang tampak tampak seperti raksasa dalam film seri televise The Land of the Giants. Kehidupan penuh 1001 teka-teki dan sejura rahasia. Pandangan itu berubah setelah kita berangkat dewasa, dunia ternyata tidak sebesar yang kita kira, ujud yang penuh misteri ternyata hanya begitu saja. Kesemestaan pun menciut, bahkan dunia bisa selebar daun kelor, bagi orang yang putus asa.

Katakanlah kita sekarang sedang mempelajari ilmu ukur bidang datar (planimetri). Tarik garis kesana, buat garis kesini, hitung berapa besar sudut yang menyilang, hitung berapa panjang garis berhadapan. Analisis seperti ini kita lakukan untuk membuat konstruksi kayu bagi atap rumah kita. Sekarang dalam bidang datar yang sama bayangkan para amuba mau bikin rumah juga. Ternyata masalah yang dihadapi arsitek-arsitek amuba berbeda dengan kita. Bagi amuba bidang datar itu tidak rata dan mulus seperti pipi wanita yang sudah di make-up, melainkan bergelombang penuh dengan lekukan yang kurang mempesona. Permukaan yang rata berubah menjadi kumpulan berjuta kurva.
Jarak yang terdekat bukan lagi garis lurus seperti di formulasikandalam ilmu ukur kita melainkan garis lengkungan seperti titipan biang lala.

Mengapa terdapat perbedaan pandangan yang nyata terhadap obyek yang begitu kongkret seperti sebuah bidang? Mengapa amuba dan kita seakan-akan hidup dalam dunia yang sangat berbeda? Sebabnya, simpul ahli fisika Swiss Charles-Eugene Guye, gejala itu diciptakan oleh skala observsi. Bagi skala observasi anak kecil pohon-pohon natal itu begitu gigantic, sedangkan bagi skala observasi amuba, bidang datar ini merupakan daerah permukiman yang berbukit-bukit.

Dalam  membangun asumsi ini maka harus diperhatikan beberapa hal. Pertama, asumsi itni harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi ini harus operasional dan merupakan dasar dari kajian teoretis. Asumsi manusia dalam administrasi yang bersifat operasional adalah makhluk ekonomi, social, aktualisasi diri dan makhluk yang kompleks. Dan asumsi bahwa manusia adalah manusia administrasi, dalam kajian administrasi, akan menyebabkan kita berhenti di situ. Seperti sebuah lingkaran, setelah berputar-putar kita kembali ke tempat semula , jadi kesitu ujung-ujungnya.

Kedua, asumsi ini harus disimpulkan dari kenyataan sebagaimana adanya bukan bagaimana keadaan yang seharusnya. Asumsi yang pertama adalah asumsi yang mendasari telaahan ilmiah sedangkan asumsi kedua adalah asumsi yang mendasari telaahan moral.

1.5 Batas-batas penjelajahan Ilmu
           
            Apakah batas yang merupakan lingkup penjelajahan ilmu? Dimanakah ilmu berhenti dan menyerahkan pengkajian selanjutnya kepada pengetahuan lain? Apakah yang menjadi karakteristik obyek ontologism ilmu yang membedakan ilmu dengan pengetahuan lainnya? Jawaban dari semua itu sangat sederhana, Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti dibatas pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari hal tentang surga dan neraka? Jawabannya adalah tidak, karena surge dan neraka berada diluar jangkauan pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari sebab musabab kejadaian terciptanya manusia? Jawabannya juga adalah tidak sebab kejadian itu berada diluar jangkauan pengalaman kita. Baik yang terjadi sebelum kita hidup maupun apa yang terjadi sesudah kematian kita. Semua itu berada diluar penjelahan ilmu.
           
            Ilmu membatasi lingkup penjelajahan pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Sekiranya ilmu memasukkan daerah diluar batas pengalaman empirisnya, bagaimanakah kita melakukan pembuktian secara metodologis?
  
Ilmu tanpa bimbingan moral agama adalah buta, demikian kata Einstein. Kebutuhan moral dari ilmu mungkin membawa kemanusiaan ke jurang malapetaka.

a.       Cabang-cabang Ilmu                            

            Ilmu berkembang dengan sangat pesat dan demikian juga jumlah cabang-cabangnya. Hasrat untuk menspesialisasikan diri pada satu bidang telaahan yang memungkinkan analisis yang makin cermat dan saksama menyebabkan objek forma obyek ontologism dari disiplin keilmuwan menjadi kian terbatasi. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu alam (the natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam cabang ilmu-ilmu social (the social sciences). Ilmu-ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni ilmu alam (the physical science) dan ilmu hayat (the biological sciences). Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang membentuk alam semesta sedangkan alam kemudian bercabang  lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (mempelajari substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit) dan ilmu bumi (atau earth science yang mempelajari bumi kita ini).

            Ilmu-ilmu social berkembang agak lambat agak lambat dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam. Pada pokoknya terdapat cabang utama ilmu-ilmu social yakni antropologi (mempelajari manusia dalam perspektif waktu dan tempat), psikologi (mempelajari proses mental dan kelakuan manusia), ekonomi (mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhan kehidupannya lewat proses pertukaran), sosiologi (mempelajari system dan proses dalam kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara).

            Cabang utama ilmu-ilmu social ini kemudian mempunyai cabang-cabang lagi seperti umpamanya antropologi terpecah menjadi lima yakni arkeologi, antropologi fisik, linguistic, etnologi dan antropologi social/cultural. Dari ilmu-ilmu tersebut di atas yang dapat kita golongkan ke dalam ilmu murni meskipun tidak sepenuhnya, berkembang ilmu social terapan yang merupakan aplikasi berbagai konsep dari ilmu-ilmu social murni kepada suatu bidang telaahan social terapan yang mengaplikasikan konsep-konsep dari psikologi, antropologi dan sosiologi. Demikian juga manajemen menerapkan konsep psikologi, ekonomi, antropologi dan sosiologi.


KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas tentang Ontologi maka dapat di simpulkan ontologi adalah bagian dari bidang filsafat yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu. Sebuah ontologi memberikan pengertian pengetahuan dari konsep dasar ilmu tersebut. Sebuah ontology itu dapat diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan ilmu yang dapat digunakan untuk sebuah pengetahuan.













   

DAFTAR PUSTAKA
S. Suriasumantri, Jujun. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2007
Saefullah, djadja. Pengantar filsafat. Bandung: PT Refika Aditama, 2004
Di posting oleh amrullah; http://amrull4h99.wordpress.com/2009/10/01/ontologi-metafisika-asumsi-dan-peluang/